Produksi Ikan Jateng Capai 975 Ribu Ton di 2025, Konsumsi Lokal pun Terus Didorong

Dlira – Jakarta – Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi perikanan yang besar, dengan total produksi perikanan tangkap dan budidaya mencapai sekitar 975.792 ton pada 2025. Namun, tingginya produksi tersebut belum sepenuhnya diikuti kebiasaan masyarakat mengonsumsi ikan sebagai sumber protein.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperkuat Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di daerah.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno dalam Sosialisasi Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan. (Foto: Pasha Yudha Ernowo/Youtube KKP)

“Potensi terkait dengan perikanan ini cukup besar. Dari tahun 2025 saja produksi perikanan tangkap Jawa Tengah mencapai 436.592 ton, sedangkan produksi perikanan budidaya mencapai 539.200 ton,” ujar Sumarno, saat Sosialisasi Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan, Selasa (30/9/2026).

Menurut Sumarno, persoalan yang perlu diatasi bukan semata-mata ketersediaan ikan, melainkan bagaimana meningkatkan minat dan kebiasaan masyarakat mengonsumsi ikan.

Ia menyebut konsumsi ikan di sejumlah wilayah Jawa Tengah masih belum semasif konsumsi daging ayam, daging sapi, dan telur. Kondisi itu terutama terlihat di wilayah tengah Jawa Tengah yang relatif jauh dari sentra produksi perikanan. “Padahal potensi di Jawa Tengah untuk produk perikanan cukup besar. Kalau kita bicara kebutuhan protein, protein dari ikan ini juga cukup besar,” katanya.

Sumarno menilai penguatan Gemarikan penting untuk mendekatkan produksi perikanan dengan kebutuhan pangan masyarakat. Ikan yang dihasilkan nelayan dan pembudidaya di Jawa Tengah diharapkan tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga semakin banyak dikonsumsi masyarakat setempat.

Sumarno juga menyoroti pilihan masyarakat terhadap jenis ikan tertentu yang kerap dianggap lebih bergengsi dibanding ikan lokal. Ia mencontohkan ikan kembung yang memiliki kandungan omega-3 dan merupakan salah satu komoditas yang mudah ditemukan di Indonesia. “Orang suka makan ikan salmon, ternyata kandungan omeganya lebih bagus ikan kembung. Lebih bagus ikan kembung, tapi gaya-gayaan makan salmon,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya edukasi kepada masyarakat bahwa pemenuhan gizi tidak selalu harus bergantung pada pangan yang mahal atau berasal dari luar negeri. Ikan lokal dapat menjadi pilihan sumber protein yang mudah diperoleh dan memiliki nilai gizi.

Menurut Sumarno, peningkatan konsumsi ikan juga dapat membantu mengoptimalkan potensi produksi perikanan dalam negeri. Ketika permintaan masyarakat terhadap ikan meningkat, rantai ekonomi perikanan mulai dari nelayan, pembudidaya, pengolah hingga pelaku usaha pangan berpeluang ikut berkembang.

Di sisi lain, peningkatan konsumsi ikan dapat menjadi salah satu alternatif dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat dan mengurangi ketergantungan terhadap komoditas pangan tertentu yang pasokannya harus dipenuhi melalui impor.

“Kita sangat sedih karena kebutuhan daging tinggi, padahal kita punya ikan yang banyak. Sedangkan daging kalau kurang solusinya impor. Kita punya penggantinya, yaitu ikan,” kata Sumarno.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendukung implementasi Perpres Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gemarikan melalui peningkatan kesadaran masyarakat untuk menjadikan ikan sebagai bagian dari pola konsumsi sehari-hari.

Sumarno berharap gerakan tersebut mampu mempertemukan dua kepentingan sekaligus, yakni meningkatkan kualitas konsumsi pangan masyarakat dan memperluas pemanfaatan hasil perikanan lokal. “Produk-produk perikanan di Jawa Tengah bisa dikonsumsi oleh masyarakat Jawa Tengah sehingga kita tidak lagi mengandalkan untuk mengimpor produk daging dari negara lain,” ujarnya.

Dengan potensi produksi yang mencapai hampir satu juta ton per tahun, Jawa Tengah memiliki basis yang kuat untuk mengembangkan budaya makan ikan. Tantangannya kini adalah memastikan ikan tidak hanya tersedia dalam jumlah besar, tetapi juga hadir lebih sering di meja makan masyarakat. (sumber infopublik.id)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top